stilah
Ahlus Sunnah wal Jama’ah sudah sering kita
dengar. Banyak orang atau kelompok yang mengaku berada di atas
pemahaman/manhaj Ahlus Sunnah. Terkadang timbul konflik akibat
pengakuan-pengakuan tanpa bukti semacam ini. Masing-masing merasa
dirinya di atas kebenaran, sedangkan kelompok lain adalah menyimpang.
Namun, yang lebih penting untuk kita kaji sekarang adalah, apakah di
dalam diri kita sudah terdapat ciri-ciri Ahlus Sunnah?!
[1] Bersatu Di Atas Kebenaran
Allah
ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang suka memecah-belah agama mereka
sehingga menjadi bergolong-golongan maka engkau (Muhammad) sama sekali
tidak termasuk bagian mereka.” (QS. al-An’am: 159).
Allah
ta’ala berfirman,
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah secara bersama-sama dan jangan berpecah-belah.” (QS. Ali ‘Imran: 103).
Allah
ta’ala berfirman,
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah ia! Dan
janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena hal itu akan
memecah-belah kalian dari jalan-Nya.” (QS. al-An’am: 153).
[2] Kebenaran Yang Harus Kita Ikuti
Allah
ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ
الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ
وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ
رَفِيقًا
“Barangsiapa yang menaati Allah dan rasul, maka mereka itulah
orang-orang yang akan bersama dengan kaum yang diberikan kenikmatan oleh
Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Dan mereka
itu adalah sebaik-baik teman.” (QS. an-Nisaa’: 69).
Allah
ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ
لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا
تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk
dan dia mengikuti jalan selain orang-orang yang beriman, maka Kami akan
membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatan yang dia pilih, dan Kami
akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu
adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’: 115).
Allah
ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ
وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ
فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ
تَأْوِيلًا
“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah rasul
serta ulil amri diantara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih
tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika
kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu lebih
baik dan lebih bagus hasilnya.” (QS. an-Nisaa’: 59).
Allah
ta’ala berfirman,
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
“Dan apa pun yang kalian perselisihkan maka hukumnya adalah kepada Allah.” (QS. asy-Syura: 10).
Allah
ta’ala berfirman,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang
Engkau beri nikmat kepada mereka. Bukan jalannya orang-orang yang
dimurkai, dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat.” (QS. al-Fatihah: 6-7).
Ibnul Qoyyim
rahimahullah berkata,
“Sesungguhnya kebenaran
itu hanya satu, yaitu jalan Allah yang lurus, tiada jalan yang
mengantarkan kepada-Nya selain jalan itu. Yaitu beribadah kepada Allah
tanpa mempersekutukan-Nya dengan apapun, dengan cara menjalankan
syari’at yang ditetapkan-Nya melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi
wa sallam, bukan dengan hawa nafsu dan bid’ah-bid’ah.” (lihat
at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 116-117)
[3] Menjunjung Tinggi Tauhid
Jalan yang lurus adalah jalannya orang-orang yang bertauhid. Merekalah orang-orang yang telah merealisasikan kandungan ayat
Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in di dalam hidupnya. Adapun orang-orang musyrik adalah kaum yang dimurkai dan tersesat dari jalan Allah (lihat
at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 54).
Allah
ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36)
Allah
ta’ala berfirman memberitakan ucapan Nabi ‘Isa
‘alaihis salam,
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
“Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan taatilah aku.
Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia.
Inilah jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 50-51, lihat juga QS. Az-Zukhruf: 63-64).
Syaikh as-Sa’di
rahimahullah berkata,
“Inilah, yaitu
penyembahan kepada Allah, ketakwaan kepada-Nya, serta ketaatan kepada
rasul-Nya merupakan ‘jalan lurus’ yang mengantarkan kepada Allah dan
menuju surga-Nya, adapun yang selain jalan itu maka itu adalah
jalan-jalan yang menjerumuskan ke neraka.”(lihat
Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 132)
Allah
ta’ala berfirman,
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا
تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ وَأَنِ
اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
“Bukankah Aku telah berpesan kepada kalian, wahai keturunan Adam;
Janganlah kalian menyembah setan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang
nyata bagi kalian. Dan sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Yasin: 60-61).
Syaikh as-Sa’di
rahimahullah menerangkan, bahwa yang dimaksud
‘menaati setan’ itu mencakup segala bentuk kekafiran dan kemaksiatan.
Adapun jalan yang lurus itu adalah beribadah kepada Allah, taat
kepada-Nya, dan mendurhakai setan (lihat
Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 698)
Sebuah realita yang sangat menyedihkan adalah banyak diantara kaum muslimin di masa kita sekarang ini yang mengucapkan
Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in,
akan tetapi di sisi lain mereka tidak memperhatikan kandungan maknanya
sama sekali. Mereka tidak memurnikan ibadahnya kepada Allah semata.
Mereka beribadah kepada selain-Nya. Seperti halnya orang-orang yang
berdoa kepada Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam, Husain, Abdul
Qadir Jailani, Badawi, dan lain sebagainya. Ini semua termasuk perbuatan
syirik akbar dan dosa yang tidak akan diampuni pelakunya apabila dia
mati dalam keadaan belum bertaubat darinya (lihat
Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 19-20)
[4] Memadukan Ilmu dan Amal
Syaikh Shalih al-Fauzan
hafizhahullah berkata,
“Orang yang
diberikan kenikmatan kepada mereka itu adalah orang yang mengambil ilmu
dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil
ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah
orang-orang yang mengambil amal namun meninggalkan ilmu.” (lihat
Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 25)
Dari Usamah bin Zaid
radhiyallahu’anhu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Pada
hari kiamat didatangkan seorang lelaki lalu dilemparkan ke dalam
neraka. Usus perutnya pun terburai. Dia berputar-putar seperti seekor
keledai mengelilingi alat penggilingan. Para penduduk neraka berkumpul
mengerumuninya. Mereka pun bertanya kepadanya, “Wahai fulan, apa yang
terjadi padamu. Bukankah dulu kamu memerintahkan yang ma’ruf dan
melarang yang mungkar?”. Dia menjawab, “Benar. Aku dulu memang
memerintahkan yang ma’ruf tapi aku tidak melaksanakannya. Aku juga
melarang yang mungkar tetapi aku justru melakukannya.”.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sufyan bin ‘Uyainah
rahimahullah mengatakan,
“Barangsiapa
yang rusak di antara ahli ibadah kita maka pada dirinya terdapat
kemiripan dengan orang Nasrani. Barangsiapa yang rusak di antara ahli
ilmu kita maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan orang Yahudi.” Ibnul Qayyim mengatakan,
“Hal
itu dikarenakan orang Nasrani beribadah tanpa ilmu sedangkan orang
Yahudi mengetahui kebenaran akan tetapi mereka justru berpaling
darinya.” (lihat
Ighatsat al-Lahfan, hal. 36)
[5] Memuliakan Para Sahabat
Allah
ta’ala berfirman mengenai para Sahabat dalam ayat-Nya,
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
“Sungguh, Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman yaitu
ketika mereka bersumpah setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon itu.” (QS. al-Fath: 18).
Ibnu Katsir
rahimahullah menyebutkan di dalam tafsirnya bahwa
jumlah para sahabat yang ikut serta dalam sumpah setia/bai’at di bawah
pohon itu -yang dikenal dengan
Bai’atur Ridhwan- adalah 1400 orang. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak akan masuk neraka seorang pun di antara orang-orang [para sahabat] yang ikut berbai’at di bawah pohon itu.” (HR. Muslim) (lihat
Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 469)
Imam Bukhari membuat sebuah bab dalam Shahih-nya dengan judul
‘Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar’ (lihat
Fath al-Bari [1/79]). Dalilnya adalah sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Tanda keimanan adalah mencintai Anshar, sedangkan tanda kemunafikan adalah membenci Anshar.” (HR. Bukhari).
Dalam riwayat lain dikatakan,
“Tidaklah membenci Anshar seorang lelaki yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain lagi disebutkan,
“Mencintai Anshar adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan.” (HR. Ahmad)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah
kalian mencela para sahabatku. Seandainya ada salah seorang dari kalian
yang berinfak emas seberat gunung Uhud, maka tidak akan mengimbangi
infak salah seorang di antara mereka, walaupun itu cuma satu mud/dua
genggaman tangan, atau bahkan setengahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Adapun hadits yang populer,
“Para sahabatku seperti
bintang-bintang. Dengan siapa pun di antara mereka kamu meneladani maka
kalian akan mendapatkan petunjuk.” Ini merupakan hadits yang lemah. al-Bazzar berkata,
“Hadits
ini tidak sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan
tidak pula terdapat dalam kitab-kitab hadits yang menjadi rujukan.” (lihat
Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 468-469)
Imam Abu Zur’ah ar-Razi mengatakan,
“Apabila kamu melihat ada
seseorang yang menjelek-jelekkan salah seorang Sahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang
zindik. Hal itu dikarenakan menurut kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam telah membawa kebenaran. Demikian pula, al-Qur’an yang beliau
sampaikan adalah benar. Dan sesungguhnya yang menyampaikan kepada kita
al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah ini adalah para Sahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya mereka -para pencela
Sahabat- hanyalah bermaksud untuk menjatuhkan kedudukan para saksi kita
demi membatalkan al-Kitab dan as-Sunnah. Maka mereka itu lebih pantas
untuk dicela, dan mereka itu adalah orang-orang zindik.” (lihat
Qathful Jana ad-Daani Syarh Muqaddimah Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani, hal. 161)
[6] Mengikuti Salafus Shalih, Menjauhi Bid’ah
Salafus shalih atau pendahulu yang baik merupakan sebutan bagi tiga
generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat (Muhajirin dan Anshar),
tabi’in (murid para sahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid para
tabi’in). Allah
ta’ala berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ
وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama yaitu kaum
Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. at-Taubah: 100).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sebaik-baik
manusia adalah di jamanku. Kemudian orang-orang yang mengikuti mereka.
Kemudian berikutnya yang mengikutinya sesudahnya.” (HR. Bukhari).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa
yang hidup sepeninggalku maka dia akan melihat banyak perselisihan.
Oleh sebab itu wajib atas kalian untuk mengikuti Sunnah/ajaranku dan
Sunnah/ajaran Khulafa’ ar-Rasyidin yang berpetunjuk. Gigitlah ia dengan
gigi-gigi geraham kalian. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan.
Sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Tirmidzi berkata:
hadits hasan sahih).
Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam.
—
Penulis: Ari Wahyudi